Showing posts with label Bio Resources. Show all posts
Showing posts with label Bio Resources. Show all posts

Mengapa Sebagian Besar Perikanan Dunia Overfishing? (Suatu Telaah Manajemen Perikanan Konvensional)

Oleh : Eko Sri Wiyono

Sumber:

ISSN : 0917-8376 | Edisi Vol.6/XVIII/Maret 2006

Sering diungkapkan bahwa sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang terpulihkan. Namun, dalam kenyataannya sampai saat ini tak satupun fakta yang mampu menunjukkan kebenaran thesis tersebut. Produksi perikanan dunia terus mengalami penurunan dan bahkan overfishing dan punah. Tulisan ini mencoba untuk menguraikan sebab-sebab kerusakan perikanan dunia ditinjau dari pendekatan pengelolaan perikanan konvensional serta mencoba mendiskusikan altenatif pengelolaan dan metode pemanfaatan sumberdaya ikan ke depan.


1. Manajemen Konvensional
Pauly, et al., 2002 [1] mengatakan bahwa kegiatan perikanan (baca: penangkapan ikan) sebenaranya adalah merupakan suatu kegiatan pengejaran atau perburuan hewan air, seperti perburuan hewan-hewan darat lainnya seperti rusa, kelinci atau hewan-hewan lainnnya di hutan. Mereka menjelaskan lebih lanjut bahwa tidak ada perburuan yang dilakukan secara industri di dunia ini, kecuali pada sumberdaya ikan. Dapat dibayangkan, apa yang terjadi jika kegiatan perburuan itu dijadikan industri dalam skala besar? Pertimbangan aspek ekonomi akan menjadi lebih dominan dibandingkan dengan aspek lainnya. Satuan upaya perburuan tersebut akan melebihi kapasitas maksimumnya dan mengakibatkan kerusakan dan kepunahan sumberdaya yang bersangkutan.
Dimulai pada awal abad 19 ketika nelayan Inggris mengoperasikan steam trawl, kegiatan perikanan berkembang pesat dan menjadi komoditas industri dan perdagangan. Sadar akan kerusakan yang timbul akibat exploitasi yang "rakus" tersebut, ilmuwan biologi perikanan mengembangkan beberapa model pengelolaan perikanan. Model-model pengelolaan perikanan konvensional tersebut kemudian diaplikasikan di berbagai perairan di belahan bumi guna menghambat laju kerusakan sumberdaya ikan. Meskipun model-model tersebut terus berkembang dan mengalami perbaikan, namun tak satupun model pengelolaan yang ada mampu menghambat laju kerusakan sumberdaya ikan. Ada beberapa alasan yang bisa diungkapkan disini kenapa model-model konvensional pengelolaan sumberdaya ikan tersebut gagal dalam menghambat kerusakan sumberdaya ikan.
Secara umum, model-model pengelolaan perikanan konvensioanl yang dikembangkan selama ini didasarkan atas positivistic science yang berasumsi bahwa ekosistem alam ini dapat diprediksi dan dikontrol [2]. Dalam kenyataannya, asumsi ini sangat susah untuk dipenuhi. Disamping kemampuan manusia untuk memprediksi perilaku ekosistem alam terbatas, perilaku ekosistem sendiri juga sangat susah untuk diprediksi. Sehingga, model-model yang berbasis kesetimbangan yang banyak diadopsi dalam pengelolaan sumberdaya ikan (seperti nilai maximum sustainable yields, MSY), tidak dapat diterapkan dengan baik. Bukan karena ketersediaan data yang terbatas, tapi yang lebih utama adalah kegagalan dalam mengadopsi perilaku ekosistem [3] dalam modelnya. Sehingga, penentuan reference point (nilai acuan) kapasitas maksimum lingkungan yang menjadi dasar dalam penentuan batas maksimum variabel keputusan (seperti MSY) menemui ketidak-akuratan. Kesalahan, baik itu lebih atau kurang (dari kapasitas maksimum sesungguhnya) akan berdampak yang buruk bagi pengelolaan sumberdaya ikan [4].
Alasan berikutnya adalah model-model pengelolaan perikanan konvensional yang sebagian besar dikembangkan untuk spesies tunggal pada perikanan industri di belahan bumi utara bagian barat, tidak cocok diterapkan pada perikanan daerah tropis yang notabene berskala kecil dan bersifat multigear-multispecies. Padahal, bumi bagian selatan yang merupakan negara berkembang, dimana perikanannya didominasi oleh perikanan skala kecil, menyumbang hampir 58% produksi perikanan dunia [5]. Perbedaan skala, sistem penangkapan ikan dan ekosistem perairan, menyebabkan model-model konvensional tidak mampu untuk menerangkan kompleksitas perikanan daerah tropis. Pengelolaan perikanan, pada hakekatnya adalah pengelolaan ekosistem, dimana keterkaitan antara komponen yang satu dengan yang lainnya sangat erat hubungan sebab akibatnya. Perubahan pada satu elemen ekosistem akan merubah struktur secara keseluruhan ekosistem tersebut. Ketidak mampuan model untuk menjelaskan kompleksitas perikanan ini, telah diyakini menjadi penyebab perubahan struktur ekosistem perikanan yang pada akhirnya menyebabkan degradasi produksi ikan dan overfishing di hampir seluruh wilayah daerah tropis.
Pada sisi lainnya, manajemen perikanan konvensioanal yang hanya terfokus pada stock assessment model yang menafikkan aspek sosial juga disinyalir menjadi salah satu penyebab ketidak-berhasilan model-model konvensioanal. Padahal, management perikanan pada hakekatnya adalah suatu upaya untuk mengontrol upaya penangkapan, atau kongkretnya mengatur nelayan, pelaku utama kegiatan perikanan, dalam mengoperasikan alat tangkapnya, kapan, dimana dan seberapa besar kapasitas perikanan yang boleh digunakan. Oleh sebab itu, pengetahuan tentang dinamika perilaku nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan termasuk di dalamnya aspek sosial-ekonomi nelayan yang melatar-belakanginya, sangatlah penting dalam pengelolaan sumberdaya ikan. Hilborn, 1985 [6] mengungkapkan bahwa krisis perikanan cod dan salmon di Canada pada tahun 1980an sebenarnya bukanlah karena ketidak mampuan model dalam memperediksi ekologi semata tapi karena dinafikkannya aspek perilaku nelayan ini dalam pengelolaan sumberdaya ikan. Penurunan stok ikan, perubahan komposisi sumberdaya ikan, serta meningkatnya kompetisi antar nelayan, telah mendorong nelayan untuk melakukan upaya-upaya efisiensi dengan menambah daya kapal, teknologi penangkapan ikan, dan alat bantu penangkapan ikan yang kesemuanya mengakibatkan meningkatnya kapasitas penangkapan ikan. Subsidi pemerintah yang tak terencana, juga diyakini telah mendorong nelayan untuk meningkatkan upaya penangkapan ikan. Motorisasi kapal nelayan yang tidak dibarengi dengan upaya peningkatan pemahaman nelayan akan pengelolaan sumberdaya ikan telah menyebabkan meningkatnya tekanan penangkapan di daerah pesisir. Dalam beberapa kasus, nelayan melakukan perubahan atau modifikasi ukuran kapal, alat tangkap atau teknologi penangkapan ikan yang digunakan guna mengelabuhi peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sehingga penghitungan satuan upaya penangkapan dalam model perikanan konvensioanal yang hanya berbasis pada jumlah armada penangkapan akan menyesatkan.
Ketidakmampuan model konvensional dalam mengoptimalkan tujuan pengelolaan itu sendiri, juga diyakini menjadi penyebab gagalnya model-model pengelolaan sumberdaya ikan konvensional dalam menghambat laju kerusakan sumberdaya ikan. Secara umum, tujuan pengelolaan sumberdaya ikan ditujukan untuk mengoptimalkan tiga tujuan utama, yaitu: ekonomi, biologi dan sosial. Kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan diharapkan mampu untuk memuaskan aspek ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya sehingga mampu mensejahterakan masyarakat, khususnya nelayan secara berkelanjutan. Namun demikian, dari ketiga tujuan utama tersebut, khususnya antara tujuan ekonomi dan biologi sangatlah bertentangan dan tidak mungkin untuk dicapai secara bersamaan. Mengoptimalkan ekonomi akan berdampak pada perusakan sumberdaya ikan dan sebaliknya mengoptimalkan sumberdaya ikan (kelestarian sumberdaya ikan) tidak akan mampu memuaskan aspek ekonomi. Perkembangan model pengelolaan sumberdaya ikan yang pada awalnya hanya diukur dengan aspek biologi semata, maximum sustainable yield (MSY) yang kemudian dimodifikasi dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, maximum economic yield (MEY) dan terakhir menjadi optimum sustainable yield (OSY) menunjukkan upaya-upaya perbaikan terhadap model yang ada. Namun, dari ketiga model tersebut, sampai saat ini belum mampu untuk mengoptimalkan seluruh tujuan pengelolaan sumberdaya ikan. Yang ada adalah, dengan nilai acuan MSY yang masih diragukan nilainya itu, sebagian besar negara berkembang mengesampingkan aspek biologi dan sosial dan terus membuka akses penangkapan ikan untuk tujuan devisa negara.


2. Pengelolaan Sumberdaya Ikan ke Depan
Selama masih didasarkan pada model-model konvensional yang memahami perikanan secara linear, dapat diduga, species tunggal dan kesetimbangan sistem, pengelolaan perikanan tidak akan berhasil. Oleh sebab itu sangat berbahaya jika pengelolaan perikanan khususnya perikanan industri di daerah tropis masih didasarkan pada model-model konvensional ini. Perikanan bukanlah kegiatan ekonomi semata, namun sudah merupakan jalan hidup sebagian besar nelayan kecil di daerah tropis. Oleh karena itu pendekatan sosial-ekologi yang mengakomodasikan aspek ekologi dan sosial dalam suatu sistem layak untuk dipertimbangkan dalam pengelolaan sumberdaya ikan ke depan. Perikanan harus dipandang sebagai integrasi sistem sosial-ekologi dengan dua arah umpan balik dan sistem adaptasi yang komplek. Pengelolaan perikanan bukan lagi ditujukan untuk menjawab pertanyaan "kemana perikaan ingin kita arahkan?" tetapi "bagaimana kita berubah menuju arah yang dikehendaki?" Pengelolaan sumberdaya ikan yang didasarkan pada nilai acuan (seperti MSY), sudah saatnya dicarikan alternatif penggantinya, dengan menggunakan rujukan arah kecenderungan perkembangan sumberdaya tersebut (misalnya perubahan komposisi hasil tangkapan, ukuran hasil tangkapan, dsb).
Pendekatan ecosystem based management (EBM) untuk pengelolaan sumberdaya ikan mungkin merupakan salah satu metoda alternatif untuk pengelolaan ekosistem sumberdaya ikan yang komplek. The Ecosystem Principles Advisory Panel (EPAP), menyatakan bahwa EBM mengemban sedikitnya 4 aspek utama [7]: (1) interaksi antara target species dengan predator, kompetitor dan species mangsa; (2) pengaruh musim dan cuaca terhadap biologi dan ekologi ikan; (3) interaksi antara ikan dan habitatnya; dan (4) pengaruh penangkapan ikan terhadap stok ikan dan habitatnya, khususnya bagaimana menangkap satu species yang mempunyai dampak terhadap species lain di dalam ekosistem. Bila dalam penjelasan EPAP tidak disebutkan secara langsung tentang bagimana mengelola perilaku orang atau manusia sebagai komponen ekosistem dimana mereka hidup dan memanfaatkan sumberdaya, tetapi sesungguhnya unsur manusia telah masuk di dalamnya. Di lain pihak, the National Research Council of the USA (NRC) dalam definisinya menyebutkan manusia sebagai komponen sekaligus pengguna dalam ekosistem secara langsung serta membedakan antara ekosistem dan pengguna ekosistem tersebut. Disebutkan juga bahwa tujuan akhir dari EBM adalah menjaga keutuhan dan kelestarian ekosistem. Sebagai alat monitoring ekosistem, EBM kemudian dilengkapi dengan indikator ekologi untuk mengukur perubahan ekosistem yang dimaksud. Indikator-indikator ini diupayakan lebih berarti secara ekologi, mudah dipahami dan diterapkan di lapangan. Berdasarkan hasil monitoring ini diharapkan perubahan ekosistem termasuk manusia yang ada di dalamnya mudah dijelaskan, sehingga keadaan ekosistem secara keseluruhan akan diketahui dan tindakan perbaikan dapat dilakukan secapatnya untuk mengatasi kerusakan yang ada. Sebagai contoh, Rochet and Trenkel, 2003 [8] mengelompokkan indikator perubahan sumberdaya ikan menjadi 3 kelompok besar yaitu (1) indicator pada tingkat populasi; (2) indicator pada tingkat antar species ikan dan (3) indicator pada tingkat kelompok ikan.
Pada tataran pelaksanaan, EBM sering disandingkan dengan marine protected area (MPA), yang didefinisikan sebagai suatu wilayah yang populasi sumberdayanya bebas eksploitasi. Tujuan MPA adalah untuk melindungi sumberdaya dari eksploitasi agar sumberdaya tersebut pulih kembali. Disamping meningkatkan ukuran ikan, MPA juga diharapkan mampu mengembalikan stok sumberdaya yang telah rusak. Mous et. al, 2005 [9] dalam kajiannya telah mengungkapkan keunggulan MPA dibandingkan dengan pendekatan konvensional yang menggunakan nilai acuan (seperti MSY). Khususnya bagi pengelolaan perikanan di Indonesia, mereka secara tegas mengusulkan untuk mengganti metoda pendekatan pengelolaan perikanan yang selama ini didasarkan pada nilai MSY dengan MPA.


3. Kesimpulan
Sampai saat ini, model-model pengelolaan perikanan terus dikembangkan guna memperbaiki kekurangan model yang telah dikembangkan sebelumnya. Perkembangan ilmu statistika dan komputer juga telah membantu ahli biologi ikan untuk mengembangkan model-model yang lebih rumit. Namun demikian, karena masih berbasis pada model-model konvensional yang bercirikan species tunggal, terpusat pada biologi populasi ikan dan mengesampingkan aspek sosial-ekologi perikanan dan berasumsi bahwa dinamika perikau populasi dapat diduga, belum juga mampu menghambat kerusakan populasi ikan dunia. Ke depan, karena perikanan dunia hampir 58 % di daerah berkembang beriklim tropis, orientasi pengelolaan perikanan perlu diubah dengan memandang sosial-ekologi perikanan sebagai suatu sistem. Alat pengelolaan perikanan bukan berorientasi pada pengukuran nilai acuan pengelolaan semata namun harus juga berisi metoda bagaimana cara menanggulangi suatu perubahan dalam sistem. Pemahaman yang menyeluruh ini akan memudahkan seorang manajer perikanan mampu untuk memberikan alternatif tindakan ketika suatu elemen sistem mengalami perubahan atau kerusakan. Salah satu metode pendekatan yang sudah dikembangkan untuk pendekatan ini adalah Ecosystem Based Management (EBM).


Daftar Pustaka

  1. Pauly, D., Christensen V., Guénette S., Pitcher T.J., Sumaila, U.R., Walters C.J., Watson, R. and Zeller D. 2002. Towards sustainability in worlds fisheries. Nature 418:689-695.
  2. Berkes F. 2003. Alternatives to conventional management: lessons from small-scale fisheries. Environments 31(1):5-19.
  3. Holling, C.S. 2001. Understanding the complexity of economic, ecological, and social systems. Ecosystem 4:390-405.
  4. Wiyono. E.S. 2005. Stok sumberdaya ikan dan keberlanjutan kegiatan perikanan. Inovasi 4:26-30
  5. Food and Agriculture Organization. 2001. The State of World Fisheries and Aquaculture 2000. FAO, Rome, 142 pp.
  6. Hilborn, R. 1985. Fleets dynamics and individual variation: why some people catch more fish than others. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science 42:2-13.
  7. USA National Marine Fisheries Service. 1999. Ecosystem based fishery management: a report to the Congress by the Ecosystem Principles Advisory Panel. http://www.nmfs.gov/sfa/reports.html
  8. Rochet MJ and Trenkel VM. 2003. Which community indicators can measure the impact of fishing? A review and proposal. Canadian Journal Fisheries and Aquatic Science 59: 1032-1043.
  9. Mous, P.J., Pet, J.S., Arifin, Z., Djohani, R., Erdmann, M.V., Halim, A., Knight, M., Pet-Soede, L. and Wiadnya G. 2005. Policy needs to improve marine capture fisheries management and to define a role for marine protected areas in Indonesia. Fisheries Ecology and Management 12:259


0 comments:

Gorontalo the Hidden Paradise; A Review

Author : Willy Volk ( WillyVolk )

I’ll be honest. Having never been fortunate enough to dive in Asia, I’d never heard of Gorontalo - until recently. Nestled among sheer limestone cliffs on the northern arm of Indonesia’s four-fingered island of Sulawesi, the Province of Gorontalo is situated at the heart of the “coral triangle,” the most biologically rich concentration of marine life in the world. Smack-dab on the equator, Gorontalo is a centuries-old community that is largely dependent on farming and fishing. However, as the world learns of the rich marine ecosystem just off its shores, tourism will no doubt gain in importance. Soon, people will likely be heading to the region in increasing numbers. And by “people,” I mean: divers.

In an effort to attract those divers, Fadel Muhammad, the progressive Governor of the province, initiated the book Gorontalo: Hidden Paradise. (He also penned the Foreword.) Assembling a top-notch team - including author Rantje Allen, and marine photojournalists William Tan (who co-authored Silent Symphony), Takako Uno, and Stephen Wong - Gorontalo: Hidden Paradise is pretty much the world’s most beautiful postcard. With its serene allure, it beckons you to come and explore its secrets. “Hi there, “ the book coos. “Wish you were here.” Unlike traditional travel guides that discuss how to get in and get out of a location, Gorontalo: Hidden Paradise doesn’t bother with that. After reading the book’s lyrical words and looking at its remarkable images, however, I can assure you that you’ll drop everything to find out how to get in to this beautiful location soon. And by “soon,” I mean: now.

The book opens with a history of the Gorontalo and a brief description of topside activities. It then launches full-tilt into the good stuff: the good stuff, in this case, being the diving. Allen has spent much of the last decade diving in Gorontalo. His knowledge and passion sparkle on each page, and the captions he provides for the images in the book are both amusing and informative. But let’s face it. The real star of this show is not Allen (sorry, dude!). The real star is the collection of images that shine, pop, glimmer, and burst like carefully packaged fireworks - if fireworks could ever be so gorgeous. 

Gorontalo is home to numerous wrecks, including the elegant yet ghostly Tjenderawashi barge. Moreover, considering the towering limestone cliffs that line the perimeter of the island, it’s no wonder that Gorontalo also sports some unique cavern diving at Jinn Caves.

In the text, Allen explains that Gorontalo-ans are aggressive protectors of the reefs, keeping out foreigners, maintaining traditional fishing practices, and outlawing anchoring on the reefs. From the images in the book, all their hard work shows. The reefs are healthy, vibrant, colorful - and huge!

Gorontalo boasts more than 500 species of hard corals. From Salvador Dali sponges - found nowhere else in the world! - to amazing and delicate (and extremely rare) blue sea fans, Gorontalo’s underwater topography is stunning.

However, neither the wrecks, nor the caverns, nor the reefs are Gorontalo’s main appeal: it’s the marine life that grabs you. Gorontalo: Hidden Paradise is loaded with dramatic and unusual images of marine life. From fun-loving Bottlenose dolphins, to fearsome Scalloped hammerheads; from puny Popcorn-head shrimp, to Pearl-eyed morays, the underwater world here is thriving.

Shooters: make sure your memory cards are empty when you arrive on the island, because you’re going to need all the space you can get. Still shooting film? Hope you dedicated an entire suitcase, because the waters off Gorontalo are full of fish. From shooting all the seahorses - the group found six within the first five minutes of hitting the water! - Teddy bear crabs, Shameface crabs, Reef lizardfish, and super-rare fish Togean flasher wrasse, your fingers are going to be tired from tripping the shutter so frequently.

In addition to the wreck, cavern, and reef diving, the area boasts excellent muck diving. The careful observer can spot fingernail-small Juvenile flounder, shy Gurnard lionfish, hideous Hispid frogfish, or Yellow-peppered shrimpgobies.

Moreover, if your eyes focus sharply, you’re likely to spot lots of unusual nudibranchs, including Apricot side-gilled sea slugs, and juvenile Carlson’s halgerda nudibranch. One trip to Gorontalo, and your collection of underwater images is going to be virtually unmatched.

Near the end of the book, Allen explains that the group only explored a few miles of Gorontalo’s three coastlines while making the book. “Much still lies hidden, unexplored,” he writes. If all this beauty and diversity is just immediately adjacent to the coastline, imagine what mysteries the rest of the surrounding waters must hold. Divers could spend weeks - or longer! - exploring the reefs off Gorontalo.

Showcasing one of the richest ecosystems in the world, Gorontalo: Hidden Paradise is a treasure. More than just a coffee table book of astounding beauty, the four-person team that put this book together have introduced to the world - and especially the diving community - a new, special, one-of-a-kind dive site. Filled with marvelous and unique marine specimens - many of which are found nowhere else in the world - Gorontalo might be the diving nirvana that we’ve been looking for all these years. Vibrant fish life. Uncrowded, healthy reefs. Unique topside attractions. What more is there for divers? I’m convinced that Gorontalo is heaven.

Personally, after looking through Gorontalo: Hidden Paradise, I want to see this paradise though my own camera lens. Have a look at the book for yourself - you can order your own copy for US$50 - and you’ll see what I’m talking about. You’ll want to visit Gorontalo, too. And by “want to visit”, I mean: drop everything that you’re doing and head there immediately.

Source; copypasted from http://wetpixel.com/i.php/full/review-of-gorontalo-hidden-paradise/

0 comments:

Gorontalo Corner

Template by : Faizal Kasim
RMGB Blog is Powered by Blogger-Image Hosting By TinyPic